Selasa, 12 Januari 2010

manusia bionik


Etimologi: dari bio (dari “biologi”) + nik (dari “elektronik”); ilmu yang mempelajari sistem mekanik yang berfungsi seperti makhluk hidup atau organ tubuh makhluk hidup.

Oleh Josh Fischman

Foto oleh Mark Thiessen

Amanda Kitts dikerumuni anak-anak umur empat dan lima tahun saat masuk ruang kelas. "Halo anak-anakku sekalian, bagaimana kabar kalian hari ini?" ujarnya sambil menepuk pundak dan mengacak-acak rambut mereka. Wanita ramping dan energetik itu sudah hampir 20 tahun menjalankan tempat penitipan anak. Dia berjongkok untuk berbicara dengan seorang gadis kecil, sambil meletakkan tangannya di lutut. "Tangan robot!" jerit beberapa anak.

“Ingat saya bisa bersalaman?” tanya Kitts, sambil mengulurkan tangan dan memutar pergelangan. Seorang anak laki-laki menyambut dengan ragu untuk menyentuh jemari Kitts. Yang disentuhnya adalah jari plastik-warna-daging yang agak tertekuk ke dalam. Di dalamnya ada tiga motor, rangka logam, serta jaringan elektronik canggih. Pangkal tangan palsu itu berupa mangkok plastik putih di pertengahan biseps Kitts, membungkus potongan lengan; nyaris hanya itu yang tersisa dari lengannya yang hilang akibat kecelakaan mobil pada 2006.

Nyaris, tetapi masih ada sisa yang lain. Di dalam otak Kitts, di luar tingkat kesadarannya, masih ada gambaran tangan yang utuh, “tangan hantunya”. Apabila Kitts berpikir tentang menekuk sikunya, hantu itu bergerak. Impuls yang mengalir dari otaknya ditangkap oleh sensor elektrode di mangkuk putih dan diubah menjadi sinyal yang menggerakkan motor, lalu siku buatan itu pun menekuk.

“Aku tidak benar-benar memikirkannya. Tinggal digerakkan saja,” ujar wanita 40 tahun yang menggunakan lengan model standar itu maupun yang lebih eksperimental dengan kontrol yang lebih baik. “Setelah kecelakaan, saya merasa merana dan tidak mengerti mengapa Tuhan menimpakan hal seperti ini. Sekarang saya selalu senang karena mereka terus memperbaiki lengan ini. Suatu hari nanti tangan saya akan dapat merasa lagi dan dapat bertepuk tangan seirama dengan lagu yang dinyanyikan anak-anak asuhan saya.”

Kitts merupakan saksi hidup bahwa, walaupun daging dan tulang rusak atau hilang, saraf dan bagian otak yang dulu mengendalikannya masih terus hidup. Dengan elektrode mikroskopis dan keajaiban pembedahan, dokter telah mulai menghubungkan bagian ini di pasien lain ke perangkat seperti kamera, mikrofon, dan motor. Hasilnya, yang buta dapat melihat, yang tuli dapat mendengar, dan Amanda Kitts dapat melipat baju.

Mesin yang mereka gunakan disebut prostesis neural atau—dengan makin nyamannya para ilmuwan dengan istilah yang dipopulerkan penulis fiksi ilmiah—bionik. Eric Schremp yang lumpuh tangan dan kakinya sejak patah leher saat terjun di kolam renang pada 1992 kini memiliki perangkat elektronik di bawah kulit yang membantunya menggerakkan jari untuk memegang garpu. Jo Ann Lewis, seorang wanita buta, dapat melihat bentuk pohon berkat bantuan kamera kecil yang berkomunikasi dengan saraf optiknya. Dan Tammy Kenny dapat berbicara kepada putranya yang berusia 18-bulan Aiden dan dia dapat menjawab karena anak yang lahir tuli itu memiliki 22 elektrode di dalam telinganya yang mengubah suara yang diterima mikrofon menjadi sinyal yang dapat dipahami saraf pendengarannya.

Saat mengetahui bahwa mesin dapat di-hubungkan dengan otak, para ilmuwan juga menemukan betapa sulitnya mempertahankan hubungan tersebut. Jika mangkuk di lengan atas Kitts bergeser sedikit saja, misalnya, dia tidak dapat mengepal. Namun, tetap saja bionik mewakili sebuah lompatan jauh ke depan yang memungkinkan peneliti mengembalikan lebih banyak anggota tubuh yang hilang daripada yang mungkin sebelumnya.

“Itulah inti pekerjaan ini: restorasi,” ujar Joseph Pancrazio, direktur program rekayasa saraf di National Institute of Neurological Disorders and Stroke. “Apabila orang dengan cedera sumsum tulang belakang dapat duduk di restoran, makan sendiri, dan tak menarik perhatian orang lain, itu artinya aku berhasil.”

Sejarah upaya pemulihan anggota tubuh, dalam ben-tuk tangan dan kaki buatan, berjejer di rak di kantor Robert Lipschutz di Rehabilitation Institute of Chicago (RIC). “Teknologi dasar lengan buatan tidak banyak berubah selama seratus tahun terakhir,” jelasnya. “Materialnya berbeda, kini kami menggunakan plastik dan bukan kulit lagi, tetapi gagasan dasarnya masih sama: kait dan engsel yang digerakkan kabel atau motor, dikendalikan dengan tuas.” Lipschutz menarik wadah plastik dari salah satu raknya.Ternyata benda itu bahu dan lengan kiri. Bahu itu seperti sebuah baju besi, diikatkan menyilang di dada dengan abah-abah (harness). Ujung lengan yang bersendi di bahu dan siku itu berupa penjepit logam. Untuk meluruskan lengan, kita menggerakkan kepala ke kiri dan menekan tuas dengan dagu, dan menggunakan sedikit gerakan untuk menjulurkan lengan itu. Melakukan hal itu sama repotnya dengan mendengarkan caranya bekerja. Juga berat. Setelah 20 menit, leher mulai pegal akibat posisi tubuh yang tidak biasa dan usaha menekan tuas. Banyak korban amputasi yang akhirnya berhenti menggunakan lengan seperti itu.

“Terkadang sulit bagiku memberi orang alat ini,” ujar Lipschutz, “karena kami tak yakin dapat bermanfaat.” Yang dapat lebih membantu, menurutnya dan orang lain di RIC, adalah jenis prostesis yang diuji Amanda Kitts secara sukarela—jenis yang dikendalikan otak, bukan bagian tubuh lain yang biasanya tak berkaitan dengan gerakan tangan. Teknik yang disebut re-inervasi otot bertarget ini menggunakan sisa saraf pascaamputasi un-tuk mengendalikan tungkai buatan. Teknik ini pertama kali dicoba pada pasien pada 2002. Empat tahun kemudian Tommy Kitts, suami Amanda, membaca tentang hal tersebut di internet saat istrinya terkapar di rumah sakit setelah kecelakaan.

“Sepertinya itu pilihan terbaik yang ada, jauh lebih baik daripada motor dan sakelar,” ujar Tommy. “Amanda jadi bersemangat.” Tak lama kemudian, mereka terbang ke Illinois.

Todd Kuiken, dokter sekaligus insinyur biomedis di RIC, merupakan orang yang bertanggung jawab atas produk yang mulai disebut “lengan bionik” oleh lembaga itu. Dia tahu bahwa saraf di lengan amputasi masih dapat membawa sinyal dari otak. Dia juga tahu bahwa komputer di prostesis dapat memerintahkan motor menggerakkan tungkai. Masalahnya adalah bagaimana membuat hubungan tersebut. Saraf mengalirkan listrik, tetapi tidak bisa disambung dengan kabel komputer (serat saraf dan kabel logam tidak bisa berhubungan dengan baik. Dan luka terbuka tempat kabel masuk ke tubuh dapat mengakibatkan infeksi).

Kuiken perlu media untuk memperkuat sinyal saraf, sehingga tidak perlu sambungan langsung. Dia menemukannya di otot. Saat berkontraksi, otot mengeluarkan sinyal listrik yang kuat sehingga dapat dideteksi oleh elektrode yang dipasang di kulit. Dia mengembangkan teknik untuk mengalihkan saraf yang terpotong dari tempat lamanya yang rusak ke otot lain yang dapat memperkuat sinyal saraf.

Pada Oktober 2006, Kuiken mulai merangkai ulang saraf Amanda Kitts. Langkah pertama adalah menyelamatkan saraf utama yang dulu memanjang hingga ke ujung lengan Kitts. Saraf itu berawal di otak Kitts (dalam korteks motor) yang menyimpan peta kasar tubuh, tetapi berakhir di ujung yang buntung. Melalui operasi rumit, ahli bedah mengalihkan saraf itu ke beberapa wilayah di otot pangkal lengan Kitts. Selama berbulan-bulan saraf ini tumbuh, milimeter demi milimeter, semakin dalam di tempat barunya.

“Pada bulan ketiga saya mulai merasa gelenyar dan kedutan,” ujar Kitts. “Pada bulan keempat saya benar-benar dapat merasakan berbagai bagian tangan saat menyentuh pangkal lengan. Saya dapat menyentuh beberapa tempat dan merasakan jari yang berbeda.” Yang dirasakannya adalah bagian “tangan hantu” yang terpetakan di otaknya kini tersambung lagi dengan daging. Ketika Kitts ingin menggerakkan jari hantunya, otot pangkal lengannya berkontraksi.

Sebulan kemudian dia dipasangi lengan bioniknya yang pertama, dengan elektrode dalam mangkuk yang membungkus lengan buntungnya untuk mengambil sinyal dari otot. Kini tantangannya adalah mengubah sinyal tersebut menjadi perintah yang menggerakkan siku dan tangan. Derau listrik yang kuat muncul dari area kecil di lengan Kitts. Di dalamnya ada berbagai sinyal. Mikroprosesor yang terpasang di prostesis harus diprogram untuk memilih sinyal yang benar dan mengirimkannya ke motor yang tepat.

Penemuan sinyal ini dimungkinkan oleh adanya lengan hantu Kitts. Di lab di RIC, Blair Lock, seorang insinyur peneliti, menyetel pemerogramannya. Dia meminta Kitts me-lepaskan lengan buatan itu agar dia dapat membungkus lengan buntung itu dengan elektrode. Kitts berdiri di depan layar datar TV besar yang menampilkan lengan-warna-daging lepas mengambang di ruang biru—visualisasi lengan hantunya. Elektrode Lock menerima perintah dari otak Kitts yang mengalir ke lengan buntungnya, dan lengan virtual itu bergerak.

Dengan suara rendah, agar tidak mengganggu konsentrasi Kitts, Lock meminta Kitts memutar tangannya, telapak tangan ke dalam. Di layar, tangannya berputar, telapak ke dalam. “Kini luruskan pergelangan, telapak ke atas,” ujarnya. Tangan di layar bergerak. “Lebih baik daripada sebelumnya?” tanya Kitts. “Tentu saja. Sinyalnya kuat.” Kitts tertawa. Kini Lock memintanya meluruskan jempolnya searah jari lainnya. Tangan di layar menurut. Mata Kitts terbelalak. “Wah. Saya malah tidak tahu bisa melakukan hal itu!” Begitu sinyal otot yang terkait dengan gerakan tertentu diketahui, komputer yang ada di lengan diprogram untuk mencarinya dan merespons dengan menggerakkan motor yang tepat. Kitts berlatih menggunakan lengannya satu lantai di bawah kantor Kuiken, di apartemen yang oleh terapis okupasi dilengkapi dengan berbagai benda yang biasa digunakan orang yang baru diamputasi. Di sana ada dapur dengan kompor, peralatan makan dalam laci, tempat tidur, lemari pakaian lengkap dengan gantungan baju, kamar mandi, tangga—hal-hal yang kita gunakan sehari-hari tetapi sangat menyulitkan orang yang kehilangan tungkainya. Mengamati Kitts membuat roti lapis selai kacang di dapur menjadi pengalaman yang mengejutkan. Dengan lengan baju digulung untuk menunjukkan mangkuk plastik, gerakannya lancar. Tangan aslinya memegang seiris roti, jari buatannya meng-genggam pisau, siku tertekuk, dan dia mengoleskan selai kacang maju-mundur.

“Awalnya tidak mu-dah. Aku mencoba meng----gerakkannya, dan tidak selalu mengarah ke tempat yang dituju.” Namun, Kitts terus berlatih, dan semakin sering dia menggunakan lengan itu, gerakannya semakin terasa seperti aslinya. Yang paling diinginkan Kitts sekarang adalah indra perasa. Itu akan sangat menolong dalam banyak gerakan, termasuk salah satu favoritnya—minum kopi.

“Masalahnya dengan cangkir kopi plastik adalah tanganku mengepal terlalu kencang. Cangkir plastik tak bisa dipegang dengan kencang,” ujarnya. “Pernah terjadi di Starbucks. Terus menjepit sampai cangkirnya pecah.”

Peluang Kitts untuk mendapatkan indra perasa cukup baik. Bermitra dengan Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, RIC telah mengembangkan prototipe baru untuk Kitts dan pasien lain yang tidak hanya lebih lentur, tetapi juga memiliki bantalan sensor tekanan di ujung jarinya. Bantalan itu terhubung ke batang kecil seperti piston yang menekan lengan buntung Kitts. Semakin kuat tekanan, semakin kuat sensasi di jari hantunya. “Saya dapat merasakan seberapa kuat pegangan saya,” ujar Kitts. Dia juga dapat mem-bedakan antara meraba benda yang kasar seperti ampelas atau yang halus seperti gelas berdasarkan kecepatan vibrasi batang-batang itu. “Aku ingin segera membawa alat ini pulang.”

Berbeda dengan Kitts, Eric Schremp tidak perlu tangan buatan. Dia cuma perlu tangan aslinya berfungsi. Tangan itu tak bisa berfungsi tanpa bantuan sejak lehernya patah pada 1992, membuat keempat tungkainya lumpuh. Namun, kini pria berusia 40-tahun itu dapat memegang pisau atau sendok.

Dia dapat melakukan hal ini berkat alat implan yang dikembangkan Hunter Peckham, seorang insinyur biomedis. “Tujuan kami ada-lah memulihkan genggaman tangan,” ujar Peckham. “Tangan penting untuk kemandirian.”

Otot jari Schremp serta saraf yang me--ngendalikannya masih ada, tetapi sinyal dari otaknya terputus di leher. Tim Peckham pun me--rentangkan delapan elektrode mikroskopis dari dada Schremp ke bawah kulit lengan ka-nannya, hingga otot jari. Gerakan otot di dada memicu sinyal yang dikirimkan melalui pemancar radio ke komputer kecil yang tergantung di kursi roda Schremp. Komputer menafsirkan sinyal itu dan memancarkannya kembali ke penerima yang tertanam di dadanya, di sana sinyal ini lalu dikirim melalui kabel di lengan Schremp ke tangan, kemudian sinyal memerintahkan jarinya menggenggam—semuanya terjadi dalam hitungan mikrodetik.

“Saya dapat memegang garpu dan makan sendiri,” ujar Schremp. “Itu besar artinya.”

Ada sekitar 250 orang yang telah dirawat dengan teknik ini, yang masih dalam tahap percobaan. Tetapi, sebuah perangkat bionik lainnya memperlihatkan bahwa perpaduan otak dan mesin dapat sangat bermanfaat dan tahan lama karena telah dipasang pada hampir 200.000 orang di seluruh dunia selama 30 tahun terakhir. Perangkat itu adalah implan rumah siput dan Aiden Kenny merupakan salah satu penerima terakhirnya. Tammy Kenny, sang ibu, ingat, setahun lalu dia mengetahui bayinya tak dapat ditolong dengan alat bantu dengar.

“Aku hanya bisa menggendongnya dan menangis,” ujar Tammy, “karena tahu bahwa dia tak dapat mendengarku. Bagaimana cara dia nanti mengenalku? Suatu kali, suamiku membenturkan panci, berharap ada respons.” Aiden tak pernah mendengar bunyi itu.

Kini Aiden dapat mendengar panci ber-dentang. Pada Februari 2009, ahli bedah di Johns Hopkins Hospital me-masang kabel tipis dengan 22 elektrode di setiap rumah siput Aiden, bagian telinga dalam yang biasanya mendeteksi getaran suara. Mikrofon juga dipasang untuk menerima suara dan mengirimkan sinyal ke elektrode yang langsung mengantarkannya ke saraf.

“Pada hari mereka menghidupkan implan itu sebulan setelah pembedahan, kami lihat dia merespons suara,” ujar Tammy. “Dia berpaling saat mendengar suaraku. Mengagumkan.” Kini, berkat terapi intensif, Aiden belajar bahasa dan dengan cepat mengejar ketinggalan dari teman-teman seusianya.

Mata bionik mungkin juga segera menyusul. Jo Ann Lewis kehilangan penglihatannya be-berapa tahun lalu akibat retinitis pigmentosa (RP), penyakit degeneratif yang menghancurkan sel pendeteksi cahaya di mata yang disebut sel batang dan sel kerucut. Namun, kemudian dia mendapat kembali sebagian penglihatannya berkat hasil penelitian Mark Humayun, pakar oftalmologi di perusahaan Second Sight.

Pada penyakit ini biasanya sebagian lapisan dalam retina selamat. Lapisan yang berisi sel bipolar dan ganglion ini biasanya mengambil sinyal dari sel batang dan kerucut di bagian luar dan mengirimkannya ke serat yang ber-gabung menjadi saraf optik. Tidak ada yang mengetahui sinyal yang dikirimkan retina atau cara mengirimkan citra yang dapat diprosesnya dengan benar. Namun pada 1992, Humayun mulai menempatkan, hanya sebentar, susunan elektrode kecil di retina pasien RP yang menjalani operasi karena sebab lain.

“Kami meminta mereka untuk mengikuti titik yang bergerak dan mereka dapat me-lakukannya,” ujarnya. “Mereka dapat me-lihat baris dan kolom.” Setelah satu dasa-war-sa pengujian, Humayun dan rekannya mengembangkan sistem yang dinamai Argus (raksasa dengan ratusan mata dalam mitologi Yunani). Pasien mendapat kacamata hitam yang dipasangi kamera video kecil, lengkap dengan pemancar radio. Sinyal video dipancarkan ke komputer yang terpasang di sabuk, diterjemahkan menjadi pola impuls listrik yang dimengerti sel ganglion, lalu dipancarkan ke penerima yang terletak di belakang telinga. Dari sini ada kabel yang membawa impuls ke dalam mata, ke susunan bujur sangkar 16 elektrode yang terpasang lembut ke permukaan retina. Impuls ini memicu elektrode. Elektrode memicu sel. Kemudian otak mengerjakan sisanya, sehingga para pasien awal ini dapat melihat bayangan dan beberapa bentuk kasar.

Pada musim gugur 2006 Humayun, Second Sight, dan tim internasional menambah jumlah elektrode dalam susunan itu menjadi 60. Seperti kamera dengan piksel yang lebih banyak, susunan baru ini menghasilkan gambar yang lebih tajam. Lewis, salah satu yang pertama mendapatkannya. “Kini saya dapat melihat siluet pohon lagi,” ujarnya. “Seingat saya, itu salah satu hal terakhir yang dapat saya lihat secara alami. Kini saya dapat melihat cabang pohon mencuat ke berbagai arah.”

Dengan mempercanggih konsep prostesis saraf, para peneliti mulai menggunakannya langsung pada otak. Para ilmuwan di proyek BrainGate mencoba menghubungkan korteks motor pasien yang tak dapat bergerak total secara langsung ke komputer sehingga pa-sien dapat menggerakkan benda dari jarak jauh dengan pikirannya. Sejauh ini, subjek peng-ujian dapat menggerakkan kursor di layar kom-puter. Para peneliti bahkan berencana mengembangkan hipokampus buatan, bagian otak yang menyimpan memori, dengan tujuan menanamkannya pada orang yang menderita hilang ingatan.

Namun, tidak semuanya berjalan sempurna. Satu dari empat pasien awal BrainGate memutuskan untuk mencabut sambungan itu karena me-mengaruhi kerja perangkat medis lain. Dan Jo Ann Lewis mengatakan penglihatannya tidak cukup untuk menyeberang jalan dengan aman. Namun, sekarang Kitts memiliki mangkuk yang lebih elastis di pangkal lengannya, yang membuat elektrode berada lebih pas di saraf pengendali tangan.

Kuiken mengatakan, “Kami memberi alat kepada orang. Alat ini lebih baik daripada yang sebelumnya. Namun masih kasar, seperti palu, dibandingkan kerumitan tubuh manusia. Alat ini kalah jauh dengan yang alami.” Namun, setidaknya orang yang menggunakan alat itu masih dapat menarik manfaat. Bahkan beberapa dapat memberi harapan.


sumber :
http://nationalgeographic.co.id/featurepage/127/manusia-bionik/10


with loVe..
cheen_tha

persyaratan nikah di KUA

Bagi anda yang akan melangsungkan pernikahan, agar pernikahan anda tercatat secara legal di Kantor Urusan Agama (KUA) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan prosedur yang harus dilalui:

Dasar hukum:

1. UU no. 22 tahun 1946 tentang Pencatatn Nikah, Talak, dan Rujuk (NTCR)

2. UU no. 32 tahun 1954 tentang berlakuknya UU no. 22 tahun 1946

3. UU no. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan

4. UU no. 9 tahun 1975 tentang berlakunya UU no. 1 tahun 1974

5. UU no. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama

6. Peraturan menteri Agama (PMA) no. 1 tahun 1976 tentang Penunjukan Pegawai untuk Mengangkat dan memberhantikan Pegawai Pencatat Nikah (PPN) serta menetapkan Wilayahnya.

7. PMA no. 2 tahun 1990 tentang Kewajiban Pegawai Pencatat Nikah (PPN)

8. Dll.

Yang harus dipersiapkan

1. Photo copy Kartu Tanda Penduduk

2. Photo copy Kartu Keluarga

3. Pas Photo ukuran 2x3 : 2 lembar dan 3x4 : 3 lembar atau sesuai kebutuhan (ketentuan di masing-masing daerah berbeda)

4. Biodata calon mempelai ybs

5. Biodata orang tua calon mempelai

6. Akta cerai bagi yang berstatus duda / janda karena perceraian.

7. Surat Ijin Nikah (bagi anggota TNI / Polri)

8. Beberapa KUA di daerah tertentu ada yang menambahkan persyaratan administrasi lainnya seperti poto copy Akta Lahir, poto copy Ijazah terakhir dll.

Langkah-langkah yang harus ditempuh:

1. Meminta surat pengantar kepada ketua RT dan ketua RW.

2. Mendatangi Kantor Kepala Desa / Kelurahan untuk membuat model N1 (Surat Keterangan untuk Nikah), N2 (Surat Keterangan tentang Orang Tua) dan N4 (Surat Keterangan Asal-usul).

Bagi yang berstatus duda/janda karena ditinggal mati isteri/suami ditambah dengan model N6 (Surat Keterangan Kematian Suami / Isteri).

Untuk daerah tertentu yang masih mempertahankan jasa Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (P3N), anda bisa meminta bantuannya untuk mengantar dan membantu proses pendaftaran hingga pelaksanaan pencatatan nikah.

3. Menghadap ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan yang membawahi tempat tinggal calon mempelai.

Bagi Calon Suami:

Bila calon suami bertempat tinggal dalam satu kecamatan yang sama dengan calon isteri, maka proses di atas sudah cukup.

Apabila Calon suami berbeda Kecamatan dengan calon isteri, maka calon suami terlebih dahulu mendatangi Kantor Urusan Agama yang membawahi wilayah tempat tinggalnya untuk meminta surat pengantar (Pemberitahuan Kehendak Nikah) dari KUA setempat untuk kemudian diserahkan kepada KUA yang akan melakukan pencatatan nikah.

Bagi Calon Isteri:

Setelah mendapatkan model N1, N2, dan N4 dari Kelurahan / Desa, maka seluruh persyaratan tersebut ditambah persyaratan administrasi pihak calon suami dibawa ke Kantor Urusan Agama Kecamatan tempat tinggal istri (dimana akan dilakukan pencatatn nikah).

Petugas KUA setempat akan mendaftarkan nama calon mempelai beserta waktu dan tempat pelaksanaan akad nikah.

Pada prinsipnya, pencatatan nikah dilaksanakan di balai nikah (KUA) pada hari dan jam kerja. Bila akad nikah dilaksanakan di luar balai nikah dan atau tidak pada hari dan jam kerja, calon mempelai dapat mengajukan permohonan kepada Kepala KUA.

Pada saat mendaftar, anda akan diberikan resi (Surat Setoran Biaya Pencatatan Nikah) dan menandatangani model N7 (Surat Pemberitahuan Kehendak Nikah)

4. Membayar biaya pencatatn Nikah melalui Bank Persepsi atau Kantor Pos

5. Menyerahkan bukti pembayaran dari bank persepsi / kantor pos ke Kantor Urusan Agama sebagai tanda bahwa anda sudah resmi mendaftar.

6. Pihak Kantor Urusan Agama akan memberi surat undangan Pembinaan Calon Pengantin yang waktu dan tempat pelaksanaannya akan diatur dan ditentukan oleh pihak KUA.

Sebaiknya anda mengindahkan dan menghadiri undangan tersebut untuk mendapatkan pembinaan dan pengetahuan tentang kehidupan berumah tangga sebagai bekal anda menuju rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah .

7. Melakukan tes kesehatan dan imunisasi di puskesmas setempat dengan membawa surat pengantar dari KUA (Beberapa KUA di daerah tertentu tidak mensyaratkan hal ini).

8. Langkah selanjutnya anda tinggal mempersiapkan fisik dan mental sambil menunggu waktu pelaksanaan akad nikah.

Demikian langkah-langkah yang harus ditempuh setiap calon pengantin untuk bisa mendapatkan legalitas pernikahan berupa buku nikah yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA).

Penting untuk diperhatikan:

1. Periksa keakuratan data anda sejak awal membuat surat pengantar.

Hal ini penting dilakukan untuk menghindari kesalahan penulisan nama dan data lainnya dalam buku nikah dan register Kantor Urusan Agama.

2. Proses melengkapi persyaratan administrasi sampai pendaftaran ke KUA sebaiknya dilakukan sendiri oleh calon pengantin atau keluarga.

3. Bila dengan terpaksa anda meminta bantuan orang lain untuk melakukan proses pendaftaran, hendaklah anda melakukan pengecekan ke Kantor Urusan Agama setempat apakah anda sudah terdaftar sesuai dengan waktu yang anda inginkan dan apakah persyaratan administrasi sudah terpenuhi.

Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan akibat ulah oknum yang memanfaatkan situasi.

4. Bila terdapat kesalahan penulisan nama, tempat/tanggal lahir atau data lainnya pada buku nikah, segera lakukan perbaikan ke Kantor urusan Agama, jangan sekali-kali anda merubahnya sendiri. Coretan-coretan atau perubahan sendiri tanpa persetujuan pihak berwenang bisa berakibat diragukannya legalitas buku nikah anda.

5. Apabila surat nikah anda hilang atau rusak dan tidak dapat dipergunakan, anda bisa mengajukan permohonan ke Kantor urusan Agama yang menerbitkan surat nikah anda untuk dibuatkan Duplikat Surat Nikah (model DN).

Duplikat dimaksud, tidak berbentuk Buku Nikah tetapi berbentuk salembar kertas folio. Tetapi memiliki kekuatan hukum yang sama dengan buku nikah yang asli.

Bila ada oknum yang menawarkan duplikat dalam bentuk buku nikah (seperti asli), anda patut berhati-hati, jangan sampai anda memiliki buku nikah “aspal” alias asli tapi palsu .


sumber:
http://dzikir-fikir.com/


with loVe..
cheen_tha

syarat pernikahan...

Mungkin ada beberapa dari Anda yang kurang begitu paham mengenai pencatatan pernikahan. Oleh karena itu berikut beberapa syarat dan hal yang perlu Anda perhatikan dalam mempersiapkan akta pernikahan
Persyaratan :

1. Foto copy bukti pengesahan perkawinan menurut agamanya dengan membawa aslinya
2. Foto copy kutipan akta kelahiran dengan membawa aslinya.
3. Foto copy Kartu Keluarga dan KTP dengan membawa aslinya.
4. Foto copy kutipan akta perceraian atau kutipan akta kematian bagi mereka yang pernah kawin.
5. Bagi mempelai yang berusia di bawah 21 tahun harus ada izin dari orang tua, apabila pada saat pencataan perawinan orang tuanya berhalangan hadir, harus ada surat izin resmi diketahui oleh pejabat yang berwenang
6. Surat izin Pengadilan Negeri bagi calon mempelai di bawah usia 21 tahun, apabila tidak mendapat persetujuan dari orang tua
7. Surat izin Pengadilan Negeri apabila calon mempelai pria di bawah usia 19 tahun dan wanita di bawah 16 tahun.
8. Surat keputusan Pengadilan Negeri yang telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti bila ada sanggahan.
9. Surat izin dari Pengadilan Negeri bila ingin berpoligami.
10. Dispensasi Camat apabila pelaksanaan pencatatan perkawinan kurang dari sepuluh hari sejak tanggal pengajuan permohonan.
11. Kutipan Akta Kelahiran Anak yang akan diakui/disahkan dalam perkawinan, apabila ada.
12. Hasil pengumuman yang tidak ada sanggahan.
13. Akta Perjanjian harta terpisah perkawinan apabila kedua mempelai menghendaki dan harus disahkan oleh pegawai pencatat pada Kantor Catatan Sipil.
14. Bagi mereka yang berusia di bawah 21 tahun harus ada izin dari Balai Harta Peninggalan apabila orang tua meninggal dunia dengan melampirkan Akta Kematian orang tuanya.
15. Bagi anggota ABRI surat izin dari komandan.
16. Bagi WNI Keturunan agar melampirkan foto copy :
a. Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia
b. Surat Bukti ganti nama ( bila sudah ganti nama )
17. Bagi WNA melampirkan foto copy :
a. Paspor
b. Dokumen Imigrasi
c. Surat tanda Melapor Diri ( STMD )
d. Surat Izin dari Kedutaan/perwakilan dari negara Sahabat, khusus Taiwan dari Kamar Dagang dan negara-negara yang lain yang tidak mempunyai perwakilan harus ada rekomendasi dari Departemen Luar Negeri c.q. Dirjen Protokol dan Konsuler.
18. Pas foto berdampingan ukuran 4 x 6 cm sebanyak 4 lembar.
19. Dua orang saksi yang memenuhi persyaratan.


Hal-Hal Lain Yang Perlu Diperhatikan :
1. Kantor Catatan sipil melayani Pencatatan Perkawinan bagi mereka yang telah melangsungkan perkawinan menurut hukum dan tata cara Agama selain Agama Islam, atau tanda telah mendapat pemberkatan atas perkawinan menurut agama yang dianut.
2. Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah usia 19 tahun bagi pria dan usia 16 tahun bagi wanita.
3. Apabila Anda melangsungkan perkawinan dalam usia di bawah 21 tahun harus sendapat ijin dari orang tua. Dan apabila masih di bawah 19 tahun bagi pria dan di bawh 16 tahun bagi wanita, maka harus mendapat Dispensasi dari Pengadilan Negeri.

(sumber:pernikahan.com)



with loVe..
cheen_tha

Senin, 11 Januari 2010

Ternyata..

dia begitu menyebalkan, tapi..
dia begitu membuatku ingin mencubitnya

aku ingin selalu dapat memeluknya
saat aku merasa bete disetiap waktu
butuh dipeluk...
butuh dicium...

haaah
kangen...


with loVe..
cheen_tha

XXXX

huuuh benci lagi
benci bgt benci bgt
benci bgt

kupikir hari ini akan sempurna..ternyata tidak!!!
ternyata semuanya sama aja
brengsek!!!! hari yang brengsek!


with a fuck of loVe..
cheen_tha

persahabatan suami istri

Salah satu tujuan dari pernikahan adalah melahirkan ketenteraman (QS ar-Rum [30]: 21). Pernikahan akan menjadikan seorang suami merasa tenteram dan damai di sisi istrinya. Begitu pula sebaliknya.

Ketenteraman dan kedamaian di dalam kehidupan pernikahan (suami-istri) mengharuskan adanya pergaulan dalam konteks persahabatan, bukan pergaulan antara penguasa dan yang dikuasai, atau antara pemerintah dan yang diperintah. Satu sama lain merupakan sahabat sejati dalam segala hal. Persahabatan yang dibangun oleh keduanya adalah persahabatan yang dapat memberikan kedamaian satu sama lain.

Allah Swt. telah memerintahkan untuk menciptakan suasana pergaulan yang baik di antara suami-istri (QS an-Nisa’ [4]: 19).

Bergaul maknanya adalah berinteraksi secara intens dan penuh canda serta bersahabat dengan penuh keakraban. Allah Swt. juga telah memerintahkan agar para suami bersahabat dengan istri-istri mereka. Persahabatan keduanya akan menciptakan ketenteraman dalam jiwa dan kedamaian dalam hidup. Seorang suami tidak boleh membuat istrinya cemberut atau bermuka masam—meski dalam perkara yang tidak sampai menimbulkan dosa; senantiasa berlemah-lembut dalam bertutur kata, tidak bertingkah keji dan kasar, serta tidak menampakkan kecenderungan kepada wanita lain selain istrinya. Begitu juga istri, dia melaksanakan ketaatan kepada suami bukan semata-mata karena terpaksa, namun karena ia sangat menginginkannya sebagai gambaran ketaatannya kepada Allah Swt. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 34). Ketaatan istri kepada suami akan dapat menciptakan ketenteraman dan kedamaian di dalam kehidupan suami-istri

Ibnu Abbas pernah bertutur, “Para istri berhak untuk merasakan suasana persahabatan dan pergaulan yang baik dari suami mereka, sebagaimana mereka pun berkewajiban untuk melakukan ketaatan dalam hal yang memang diwajibkan atas mereka terhadap suami mereka.”

Rasulullah saw. juga pernah bersabda:

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِي»

Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah orang yang paling baik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku. (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah saw. adalah orang yang paling indah dalam bergaul dengan keluarganya. Beliau dikenal supel dan bijaksana dalam pergaulan, selalu menampakkan muka yang manis dan riang gembira, suka bergurau dengan istri-istrinya, lemah-lembut terhadap mereka, dan memberi nafkah rumahtangga yang cukup. Beliau bahkan pernah bergurau dengan cara mengumpulkan istri-istrinya tiap malam untuk makan di rumah tempat ia harus menginap menurut giliran, lalu setelah makan malam masing-masing kembali ke rumahnya sendiri. Beliau selalu tidur di bawah satu sarung bersama istrinya. Jika Beliau selesai shalat isya, Beliau tidak meninggalkan kebiasaan bercanda dengan istri-istrinya sebelum ia tidur.

Persahabatan dalam kehidupan suami-istri tidak menunjukkan hilangnya kepemimpinan dalam rumah tangga. Sebab, Allah Swt. telah menegaskan, bahwa suami adalah pemimpin atas istrinya (QS an-Nisa’ [4]: 34).

Hanya saja, kepemimpinan suami atas istri di dalam rumah bukan berarti menjadikan dirinya sebagai orang yang bertindak otoriter yang tidak dapat dilanggar perintahnya. Oleh karena itu, seorang istri berhak menjawab dengan santun ucapan suaminya, berdiskusi dengan suaminya secara makruf dan turut serta dalam memberikan masukan kepadanya. Sebab, pada dasarnya, keduanya adalah dua orang sahabat, bukan pihak yang memerintah dan yang diperintah atau penguasa dan bawahan. Rasulullah saw., di dalam rumahnya, adalah sahabat karib bagi istri-istrinya, bukan penguasa yang otoriter terhadap mereka, meskipun Beliau adalah seorang kepala negara, panglima perang, politikus, sekaligus seorang nabi dan rasul.

Kiat-kiat Membangun Persahabatan Suami-Istri

1. Saling memahami.

Pernikahan adalah menyatukan dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan dua keluarga yang berbeda. Karena itu, suam-istri perlu saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta menerimanya dengan lapang dada tanpa ada penyesalan yang berkepanjangan. Kadangkala suami mempunyai kelebihan dalam kemampuan berkomunikasi, sedangkan istrinya kurang. Sebaliknya, istri memiliki kemampuan manajemen, sedangkan suaminya lemah. Kelebihan yang ada pada salah satu pasangan tidak menunjukkan ketinggian orang tersebut, demikian juga kekurangan yang ada pada seseorang tidak menunjukkan dia rendah. Sebab, tinggi-rendahnya manusia di sisi Allah Swt. adalah karena ketakwaannya. (QS al-Hujurat [49]: 13). Saling memahami akan menjadikan suami-istri berempati terhadap pasangannya sehingga tidak mudah saling berburuk sangka. Sikap saling empati/memahami tidak berarti toleran terhadap kesalahan dan kelemahan yang dapat merugikan pasangannya. Namun, sikap ini memudahkan suami-istri untuk berpikir jernih sebelum memberikan pendapat, kesimpulan maupun penilaian. Kejernihan berpikir akan dapat memudahkan seseorang untuk bersikap dengan tepat dan benar terhadap pasangannya. Dengan itu, masing-masing akan terhindar dari kesalahpahaman yang memunculkan perselisihan dan pertengkaran. (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 19).

2. Saling mencintai karena Allah Swt.

Saling mencintai karena Allah (mahabbah fillâh) antara suami-istri merupakan salah satu perekat persahabatan di antara mereka. Munculnya cinta karena Allah Swt. disebabkan karena keduanya memiliki keimanan dan melakukan ketaatan-ketaatan kepada-Nya. Jika ada yang tidak disukainya dari pasangannya, itu karena ia tidak rela sahabatnya melakukan kemaksiatan dan kemungkaran kepada Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya.” (HR al-Hakim).

3. Saling menerima dan memberi.

Salah satu cara untuk mewujudkan persahabatan antara suami-istri adalah keduanya melaksanakan kewajibannya masing-masing sekaligus memenuhi hak-hak setiap pasangannya. Keduanya saling berlomba untuk menunaikan kewajiban yang akan menyebabkan hak pasangannya akan terpenuhi. Ibnu Abbas pernah bertutur, “Sungguh, aku suka berhias untuk istriku, sebagaimana ia berhias untukku. Aku pun suka meminta agar ia memenuhi hakku yang wajib ia tunaikan untukku sehingga aku pun memenuhi haknya yang wajib aku tunaikan untuknya. Sebab, Allah Swt. telah berfirman (yang artinya): Para wanita/istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf (QS al-Baqarah [2]: 228).”

4. Saling menasihati.

Manusia manapun tidak luput dari kesalahan. Persahabatan suami-istri akan mengantarkan setiap orang tidak pernah rela pasangannya melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak. Saling memberi nasihat merupakan wujud suatu hubungan yang saling mencintai karena Allah Swt. Sebab, tujuannya adalah dalam rangka menjaga ketaatan kepada Allah Swt. dan menjauhkan pasangannya dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Nasihat yang disertai dengan komunikasi yang tepat waktu dan tepat cara (lemah-lembut dan tidak menjustifikasi kesalahan) akan membuat pasangan yang dinasihati merasakan kesejukan dan ketenteraman dalam menerima masukan.

5. Saling tolong-menolong.

Kehidupan suami-istri adalah kehidupan yang berpeluang mengalami kesulitan-kesulitan seperti beban pekerjaan yang memberatkan, pemenuhan nafkah, pendidikan anak, dan lain-lain. Saling tolong-menolong akan dapat meringankan beban satu sama lainnya. Pada saat suami tidak dapat menyediakan pembantu rumah tangga, ia dengan rela membantu pekerjaan rumah tangga jika istrinya kewalahan melakukannya. Rasulullah saw. terbiasa menjahit sendiri bajunya yang robek dan memperbaiki sandalnya yang rusak tanpa memberatkan istri-istrinya. Begitu juga istri, pada saat suami mengalami kesulitan dalam pemenuhan nafkah untuk keluarga, tidak ragu-ragu untuk membantu dan meringankan suaminya. Namun, perlu dipahami, saling tolong-menolong bukan berarti kewajiban masing-masing bisa saling dipindahkan atau dihilangkan, misalnya suami mengurus rumah dan istri mencari nafkah. Sikap tolong menolong antara suami-istri akan semakin mempererat persahabatan di antara keduanya.

6. Saling memaafkan.

Kehidupan suami-istri tidak luput dari berbagai kelemahan, kesalahpahaman dan pertengkaran kecil. Hal-hal ini akan dapat merenggangkan hubungan persahabatan satu sama lain. Pada saat salah seseorang dari suami-istri melakukan sesuatu hal yang menimbulkan kemarahan, maka langkah yang perlu disuburkan oleh yang lainnya adalah menahan marah dan mudah saling memaafkan. Saling memaafkan satu sama lainnya adalah kunci untuk memelihara persahabatan antara suami-istri. Aisyah Nur Azizah*

http://malanginside.blogspot.com/2008/10/indahnya-persahabatan-suami-istri.html




with loVe..
cheen_tha

Minggu, 10 Januari 2010

RiNdu..

hanya ada satu inginku
mencapai kebahagiaan itu lagi
saat ku bisa tersenyum penuh makna
saat aku tersenyum dan hatiku pun begitu
saat aku tersenyum begitu pula rasaku

saat hatiku bisa tersenyum
saat aku mampu mengenang semua memori dengan begitu sempurnanya
aku ingin bisa merasakan hal itu lagi
berbagi senyum dengan dunia
berbagi tawa dengan dunia
karena aku..bahagia..

bahagia ketika...
ada satu senyuman untukku
ada usapan lembut di kepalaku
dan hanya ada satu alasan, yaitu aku

aku suka saat kepalaku diusap
aku suka arah perbincangan yang konyol dan terkesan ga masuk akal
aku suka saat aku menggenggam tanganmu saat melepas kau pergi
karena aku tau tangan ini tak ingin kau pergi.. walau harus
tapi aku tau... hatimu pasti untukku..meski hanya untuk saat itu saja
tapi itu cukup.
cukup bagiku untuk tau... bahwa aku spesial di hatimu..

aku rindu..
kebahagiaanku..


with loVe..
cheen_tha

terpendam di hati..

ada hal ketika semuanya tak lagi menjadi seia sekata
ada hal dimana semuanya harus menjadi berlebih
ada hal dimana semua kata hanya akan menambah duka

aku benci kamu
sungguh benci kamu
ingin meluapkannya
namun bagaimana caranya?

sungguh ingin ku menghujatmu
teramat sangat
biar hatiku puas
biar semua laraku hilang

aku membencimu teramat sangat
hingga menutupi sayangku padamu
sikapmu memuakkanku
membuatku tak bisa berhenti tuk ingin menghujatmu

tapi yang bisa kulakukan hanya diam
lebih baik aku diam
sedikit ku berucap
kutahu, hanya caci maki yang akan menamparmu

lebih baik aku diam
diam
dan diam saja
aku lebih memilih diam saja
hingga mereda amarahku

aku benci!

cheen_tha

BENCI...

gw ga perduli sama semuanya
kalo ga disini, gw mau nulis dimana lagi?
semuanya dilarang!
ini ga boleh itu ga boleh
so? what must i do?

ketika semuanya menjadi menyebalkan
gw mesti gimana??
diam aja? udah sering gw lakuin
rasanya mati gaya..
mau tak mau..
nulis menjadi satu langkah gw buat mereduksi semua ini!!

aku benci kamu!


with loVe..
cheen_tha

Kamis, 07 Januari 2010

aku kecewa..

ada yang bilang dia akan memenuhi dengan semua hal karena dia yang salah
dia akan memenuhi dengan kata2nya

hanya saja aku kecewa dengannya
semua tulisan itu tak akan bisa kembali
tak akan bisa kembali hanya dengan kata maaf

dan disaat aku buntu..
tak ada satu kata pun terlintas di benak..
dan aku.. kecewa...



with loVe..
cheen_tha